B Ubaedillah Kamil

Bandung, Indonesia

085-222-999-xxx

76C486E5

bubaka2000@gmail.com
::
Start
[Bubaka2000]
Logout

Navbar3

Search This Blog

Tahukah Anda : Stethoscope



stethoscope.jpg




Seorang dokter biasanya identik dengan stetoskop. Dengan alat ini, ia bisa menganalisis penyakit pasien dari suara yang terdeteksi melalui stetoskop yang ditempelkan pada tubuh pasien.




Tapi, tahukah Anda bahwa alat tersebut awalnya tercipta dari sebuah kesulitan? Alkisah, seorang dokter bernama Rene Theophile Hyacinthe Laennec merasa sulit mendeteksi detak jantung pasien tanpa alat bantu. Untuk itu, ia menggulung kertas yang kemudian ditempelkan pada tubuh pasien untuk memperbesar suara denyut nadi.




Suatu ketika, Rene teringat pernyataan Leonardo da Vinci. Leonardo mengatakan bahwa kayu dapat dijadikan media untuk memperbesar suara yang lirih. Dari pernyataan itu, ia kemudian mencoba menggunakan kayu untuk memecahkan kesulitannya mendengar denyut nadi pasien.




Melalui berbagai percobaan, pada tahun 1819 Rene berhasil menciptakan stetoskop generasi pertama yang diberi nama Baton. Bentuknya berupa pipa silinder berlubang yang terbuat dari kayu dengan panjang 5,9 inchi atau 15 centimeter. Alat itu ditempelkan pada tubuh pasien dan bagian ujungnya didengarkan pada telinga sang dokter. Bentuk Baton kemudian berkembang menjadi gelas berbentuk pipa atau jam pasir dengan panjang 15-22,5 centimeter. Berkat kemajuan teknologi, pada abad 19 stetoskop dikembangkan dengan bahan karet dan aluminium.




Kemudian, penemuan Rene disempurnakan oleh Nicholas P Comins pada tahun 1829. Ia menciptakan stetoskop yang memungkinkan seseorang mendengar denyut nadi dengan kedua telinga. Inilah stetoskop yang kita kenal bentuknya saat ini.




Penemuan Rene dan Nicholas ini bisa dikatakan sebagai penemuan yang mengubah dunia. Sebab, stetoskop kini menjadi semacam alat wajib untuk menganalisis penyakit pasien. Sekali lagi, inilah bukti bahwa hadirnya kesulitan, jika disikapi dengan kebijakan, akan melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi sesama.




0 komentar: