B Ubaedillah Kamil

Bandung, Indonesia

085-222-999-xxx

76C486E5

bubaka2000@gmail.com
::
Start
[Bubaka2000]
Logout

Navbar3

Search This Blog

Tokomayaku – temporary index

 

Selamat Datang

di

full-shopping-cart-icon

Tokomayaku.com

 

 

 

 

 

Constructor

Mohon maaf website ini

masih dalam perbaikan

 

Terimakasih atas kunjungannya,

Kami nantikan kunjungan Anda berikutnya

 

Tokomayaku

Read More --►

Filosofi Lisan

image

Sayyidina Ali K.W berkata:

1. Lisan orang mukmin bermula dari belakang hatinya, sedangkan hati orang munafik bemula dari belakang lisannya.

2. Tidaklah lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lisannya.

3. Demi Allah, tidaklah aku melihat seorang hamba bertaqwa dengan taqwa yang membawa manfaat baginya sehingga dia menyimpan lisannya.

4. Sesungguhnya lisan ini senantiasa tidak mematuhi pemiliknya.

5. Berbicaralah, niscaya kalian akan dikenal karena sesungguhnya sese­orang tersembunyi di bawah lisannya.

6. Ketenangan seseorang terdapat dalam pemeliharaannya terhadap lisannya.

7. Lisanmu menuntutmu apa yang telah engkau biasakan padanya.

8. Lisan laksana binatang buas, yang jika dilepaskan, niscaya ia akan menggigit.

9. Jika lisan adalah alat untuk mengekspresikan apa yang muncul dalam pikiran, maka sudah seyogyanya engkau tidak menggunakan­nya dalam hal yang tidak ada dalam pikiran itu.

10. Perkataan tetap berada dalam belenggumu selama engkau belum mengucapkannya. Jika engkau telah mengucapkan perkataan itu, maka engkaulah yang terbelenggu olehnya. Oleh karena itu, simpanlah lisanmu, sebagaimana engkau menyimpan emasmu dan perakmu. Ada kalanya perkataan itu mengandung kenikmatan, te­tapi ia membawa kepada bencana.

11. Sedikit sekali lisan berlaku adil kepadamu, baik dalam hal menye­barkan keburukan maupun kebaikan.

12. Timbanglah perkataanmu dengan perbuatanmu, dan sedikitkanlah ia dalam berbicara kecuali dalam kebaikan.

13. Sesungguhnya ada kalanya diam lebih kuat daripada jawaban.

14. Jika akal telah mencapai kesempurnaan, maka akan berkuranglah pembicaraannya.

15. Apa yang terlewat darimu karena diammu lebih mudah bagimu untuk mendapatkannya daripada yang terlewat  darimu karena per­kataanmu.

16. Sebaik-baik perkataan seseorang adalah apa yang perbuatannya membuktikannya.

17. Jika ringkas (dalam perkataan) sudah mencukupi, maka memper­banyak (perkataan) menunjukkan ketidakmampuan mengutarakan sesuatu. Dan jika ringkas itu dirasa kurang, maka memperbanyak (perkataan) wajib dilakukan.

18. Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahan­nya; barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit malu­nya; barangsiapa yang sedikit malunya, maka sedikit wara’nya‘ (kehati hatian dalam beragama); barangsiapa yang sedikit wara’nya, maka mati hatinya; dan barangsiapa yang mati hatinya, maka dia akan masuk neraka.

 

 

Read More --►

Majapahit adalah (Bukan) Kesultanan Islam

Tidak bermaksud untuk membuat bingung para pembaca sekalian, tapi saya hanya berusaha untuk objektif terhadap informasi yang didapat, berikut saya posting tanggapan mengenai posting sebelumnya yaitu Fakta Fakta Terselubung Kerajaan Majapahit. Keputusannya berada ditangan para pambaca sekalian. Semoga menambah wawasan.

 

Melihat tulisan di sini, di sini, di sini, dan di situs-situs lain, termasuk dalam forum forum-forum internet, menjadi motif saya untuk menulis tulisan ini sebagai sikap saya atas inti tulisan tersebut yang menyatakan bahwa Majapahit merupakan kerajaan Islam di Indonesia yang bernama Kesultanan Majapahit.

Saya akan mengulas hal-hal yang dijadikan dasar oleh pihak yang menyatakan Majapahit merupakan kerajaan Islam.

Pertama,  mengenai ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’

Koin Dengan Lafaz Kalimat Tauhid

Ulasan saya:

Pada tahun 2009, Tim Evaluasi Neo Pusat Informasi Majapahit (Neo PIM) menemukan peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit di situs Trowulan yang salah satunya adalah ribuan mata uang kuno dari Tiongkok.  Mata uang tersebut bertuliskan huruf Tiongkok, dan jumlahnya sekitar 60 ribu keping.

Apakah ini menandakan bahwa Majapahit adalah kerajaan yang beragama Konghucu, Taoisme, atau agama apapun yang berasal dari Tiongkok?

Atau, apakah Majapahit merupakan kerajaan bawahan (vassal) dari Kekaisaran Tiongkok?

Tentu saja bukan.

Peninggalan berupa uang koin Tiongkok yang ditemukan di wilayah kerajaan Majapahit pertanda adanya hubungan dagang dengan negeri Tiongkok. Para pedagang dari Tiongkok kerap membawa mata uang negerinya yang terbuat dari emas, perak atau perunggu untuk dibawa ke Majapahit. Hal ini wajar saja mengingat pada zaman tersebut emas, perak, atau perunggu merupakan alat pembayaran yang lazim digunakan dimana saja. Yang membedakan nilainya adalah berat dari emas/perak itu sendiri. Majapahit sendiri mengeluarkan uang lokal yang disebut dengan Gobog.

Koin Tiongkok Pada Zaman Majapahit

Penemuan koin emas yang bertuliskan kalimat tauhid dengan huruf Arab pun menandakan para pedagang dari Timur Tengah telah menjalin hubungan dagang dengan para pedagang nusantara, khususnya Majapahit. Terlalu tergesa-gesa bila menyimpulkan Majapahit adalah Kerajaan Islam karena ditemukannya koin emas berlafazkan “La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah”.

Penduduk lokal Majapahit mungkin sudah ada yang memeluk Islam yang disebarkan para pedagang/ulama yang datang dari Timur Tengah, tapi tidak dapat disimpulkan bahwa kerajaan Majapahit adalah kerajaan/kesultanan Islam.

Kedua, mengenai penemuan pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah hakim agama Islam kerajaan Majapahit.

Ulasan saya:

Pada nisan makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh Maghribi atau Sunan Gresik, terdapat inskripsi yaitu surat al-Baqarah ayat 225 (ayat Kursi), surat Ali Imran ayat 185, surat al-Rahman ayat 26-27, dan surat al-Taubah ayat 21-22 serta tulisan dalam bahasa Arab yang artinya:

Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para Sultan dan Menteri, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya(dalam terjemahan lain disebut: terkenal dengan Kakek Bantal-red). Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah.

Tidak ada dalam inskripsi tersebut yang menyatakan bahwa beliau adalah hakim agama Islam di kerajaan Majapahit. Terjemahan Sultan dan Menteri dalam inskripsi tersebut menurut Macchi Suhadi yang mengacu pada pendapat Usman bin Yatim bin Abdul Halim Nasir ditujukan untuk Sultan Samudera Pasai, karena menurutnya nisan Maulana Malik Ibrahim berasal dari Pasai karena memiliki kemiripan dengan nisan makam sultan-sultan dari Samudera Pasai. Tjandrasasmita (1983:283) malah berpendapat  bahwa kuat dugaan bahwa sultan dan menteri yang berduka dengan meninggalnya Maulana Malik Ibrahim itu berasal dari Gujarat dan Samudera pasai, yang mengirimkan jirat dan nisan beserta pertulisannya tersebut, sebagai tanda hormat kepadanya.

Kalau memang perkataan Sultan dan Menteri itu merujuk kepada Majapahit, mengapa di peninggalan Majapahit seperti di candi-candi, tidak menggunakan huruf Arab?

Batu nisan yang ada di makam Maulana Malik Ibrahim jelas dibuat oleh orang/pihak yang mengenal beliau. Yang jelas, inskripsi tersebut menceritakan bahwa yang dimakamkan bukanlah orang sembarangan. Maulana Malik Ibrahim selain dikenal sebagai ulama, beliau juga terkenal sebagai pedagang, dan ahli pengobatan. Kalau memang ada para bangsawan/raja Majapahit yang mengenal beliau, atau bahkan menganut agama Islam karena beliau, bukan berarti menandakan bahwa kerajaan Majapahit merupakan Kerajaan Islam. Lebih-lebih bila tulisan dalam nisan Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai bukti bahwa beliau adalah menteri dari Majapahit.

Pertanyaan saya adalah, kalau Maulana Malik Ibrahim memang benar seorang menteri di Majapahit, terus kenapa?

Kita bandingkan dengan negeri Tiongkok.

Mengapa tidak ada yang menarik kesimpulan yang menyatakan bahwa kekaisaran Tiongkok pada masa lalu adalah negara Islam? Padahal kekaisaran Tiongkok  memiliki Laksamana Cheng Ho, seorang muslim asli Tiongkok, pemimpin armada laut dalam ekspedisi pelayaran Tiongkok, juga merupakan kasim di negeri itu.

Ketiga, perihal lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat.

Ulasan saya:

Dibawah ini adalah gambar yang dianggap bukti bahwa pada lambang Majapahit terdapat tulisan Arab:

Gambar Pertama

Bandingkan dengan gambar yang ini yang juga gambar lambang Majapahit:

Gambar Kedua

Pada gambar pertama, seolah-olah huruf arab tersebut merupakan huruf yang benar-benar tercetak pada artefak Surya Majapahit. Menurut saya, huruf Arab yang diberi penekanan pada gambar tersebut tidak lebih merupakan persepsi yang dipaksakan oleh pihak yang menganggap Majapahit merupakan kerajaan Islam. Hal ini tidak dapat diterima begitu saja sebagai bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan Islam.

Ini seperti foto tentang misteri monster danau Loch Ness.

Foto di samping ada yang menganggap sebagai foto penampakan makhluk misterius yang ada di danau Loch Ness, dan ada yang menganggap sebagai foto biasa yang menganggap hal itu mungkin saja batu atau kayu yang ada di danau tersebut. Akibat foto ini, sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk ekspedisi mengungkap misteri makhluk misterius danau Loch Ness karena meyakini kalau foto tersebut benar-benar merupakan penampakan dari monster yang ada di danau tersebut.

Tetapi…

Pada tahun 1994, misteri tentang foto tersebut terungkap. Foto tersebut adalah rekayasa. Foto itu adalah foto mainan kapal selam yang di atasnya ditempel mainan ular naga laut (bentuk leher memanjang). Selama 60 tahun foto tersebut dipercaya sebagai bukti keberadaan monster danau Loch Ness.

Keempat, pendapat yang menyatakan pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan.

Ulasan saya:

Saya sungguh tidak tahu atas dasar apa ada pendapat yang menyatakan bahwa pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim dan Prabu Guru Dharmasiksa adalah seorang ulama Islam. Hingga kini, saya belum menemukan sumber otentik, bahkan cerita rakyat sekalipun yang menyatakan Raden Wijaya serta Prabu Guru Dharmasiksa adalah seseorang yang menganut agama Islam.

Lepas dari itu, Raden Wijaya dipercaya merupakan anak dari Dyah Lembu Tal. Beberapa sumber memiliki redaksi yang berbeda tentang Dyah Lembu Tal, yaitu:

a. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Lembu Tal atau Dyah Singamurti adalah putri dari Mahisa Campaka, putra Mahisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari.

Lembu Tal menikah dengan Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah tahun 1175-1297. Dari perkawinan itu lahir Raden Wijaya.

b. Menurut Negarakertagama, Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, anak dari Narasinghamurti.

Keterangan dalam Negarakertagama diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan oleh Raden Wijaya sendiri pada tahun 1305 M. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota asli Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang menurut Pararaton didirikan oleh Ken Arok, penguasa pertama Kerajaan Singhasari.

Jadi, keterangan tentang Raden Wijaya yang merupakan cucu dari Dharmasiksa sendiri masih perlu diteliti. Mungkin saja Raden Wijaya memang cucu Dharmasiksa seperti yang tercantum dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Raden Wijaya dibawa pergi oleh Lembu Tal dari Sunda dan akhirnya menetap kembali di Singasari. Untuk meyakinkan legitimasinya di Majapahit, Raden Wijaya menggunakan silsilah yang ia buat dari garis keturunan Singasari. Sebagaimana raja-raja Mataram Islam yang menggunakan silsilah hingga ke Nabi Adam untuk memperkuat legitimasinya. Atau malah, Raden Wijaya sama sekali tidak memiliki darah Sunda? Ini merupakan kajian yang masih harus diteliti kebenarannya.

Adapun Prabu Guru Dharmasiksa sendiri memang terkenal akan ajarannya yaitu Amanat Galunggung yang intinya merupakan amanat yang bersifat pegangan hidup, amanat tentang perilaku negatif, dan amanat tentang perilaku positif. Tidak ada redaksional yang mengarah kepada kesimpulan bahwa Dharmasiksa adalah seorang muslim. Amanat Galunggung sendiri dipercaya merupakan khazanah lokal budaya Sunda yang berasal dari agama Sunda Wiwitan (agama Sunda Kuno).

Mengenai Gajah Mada sendiri, ada yang mengatakan kalau itu adalah gelar. Pada masa itu, memang lazim digunakan nama-nama hewan sebagai gelar seperti Prabu Gajah Agung, Lembu Agung, Lembu Tal, Gajah Kulon, Kebo Anabrang, dan lain-lain. Belum dapat dipastikan apakah Gajah Mada benar-benar nama asli atau bukan. Hanya saja, kesimpulan bahwa Gajah Mada adalah Gaj Ahmada sungguh sangat lucu. Apakah arti Gaj itu? Lalu, mengapa dengan mudahnya memenggal nama Gajah Mada menjadi Gaj Ahmada?  Mengapa tidak Ga Jahmada, Gajahma Da? Atau G.Ajah Mada?

Adapun mengenai gelar pada Raden Wijaya yang bukan justifikasi bahwa dia adalah seorang Hindu, masih bisa saya terima. Tapi, bila harus membandingkan Kertarajasa Jayawardhana (gelar Raden Wijaya) dengan Sultan Hamengkubuwono, itu jelas berbeda.

Bisa saja seorang muslim memakai gelar dengan Bahasa Sanskerta seperti Kertarajasa Jayawardhana, tetapi tidak bagi non muslim yang menggunakan gelar Sultan. Sultan adalah gelar identitas kekuasaan dan keagamaan, sama seperti Paus pada agama Katholik dan Tahta Suci Vatikan. Kesultanan merupakan bentuk pemerintahan khas Islam, seperti pada Banten, Aceh, Ternate, dan yang lainnya. Pada masa sekarang, mungkin seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Brunei Darussalam contohnya. Bila sang Sultan sudah tidak Islam, maka Kesultanan pun berubah menjadi, Kekaisaran Brunei, atau Republik Ngayogyakarto.

Untuk menjelaskan bahwa Sultan adalah suatu gelar identitas, saya ajukan pertanyaan sederhana.

Sultan Henry XIV dengan Paus Yazid III. Menurut anda, manakah di antara mereka yang seorang muslim?

Kelima, tentang  keturunan Arab  yang banyak menjadi penguasa di Nusantara.

Ulasan saya:

Memang ada kerajaan di Nusantara yang didirikan oleh seorang keturunan Arab Islam, contohnya adalah Kesultanan Perlak di Aceh (840-1292). Tetapi, saya bertanya singkat saja:

Siapakah pendiri Majapahit?

Sudah tentu Raden Wijaya yang berasal dari Nusantara sendiri (kalau tidak Jawa, ya Sunda. Lihat ulasan keempat di atas).

Di luar kelima hal yang dianggap sebagai bukti di atas, ada yang berpendapat seperti ini:

“jika Majapahit adalah kerajaan besar yang beragam Buddha atau Hindu, harusnya sampai saat ini agama terbesar di nusantara ini tentunya Buddha dan Hindu. karena yang namanya keyakinan itu pasti mengakar kuat. Tapi kenyataannya agama terbesar sampai saat ini dari sejak nusantara sampai sekarang adalah Islam.

Ini pararel dengan kenyataan bahwa Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama yang masih eksis berdiri sampai sekarang walapun sudah 60 tahun. dan itu baru organisasi, bukan sebuah kerajaan besar. Apalagi tentunya jika dibandingkan dengan kerajaan sebesar Majapahit. tentunya itu akan mewarisi ideologi/agama yang kuat. kenapa tidak Buddha atau Hindu yang besar? Melainkan Islam?”

Menurut saya pendapat di atas menafikan fakta sejarah yaitu munculnya kerajaan-kerajaan Islam di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Maluku, baik sezaman  dengan Majapahit, maupun setelah Majapahit runtuh. Tentu hal ini, berpengaruh pada cepatnya penyebaran Islam di Indonesia. Perlu diketahui, saat Majapahit runtuh, tidak ada kerajaan non-Islam (Hindu-Buddha) di Indonesia yang pengaruhnya sebesar  atau melebihi Majapahit.

Kita ambil contoh negara India. Sebelum Republik India resmi berdiri, India pernah berada dalam pemerintahan Mughal, suatu pemerintahan Islam dari abad 16 hingga 19. Peninggalannya yang terkenal adalah Taj Mahal, bangunan bercorak Islam yang menjadi kebanggaan masyarakat India. Tapi kini, nyatanya India adalah negara dengan populasi Hindu terbanyak di dunia.

Menurut saya, pendapat yang menyatakan bahwa Islam berkembang sejak zaman Majapahit itu mungkin saja benar, tetapi kesimpulan bahwa Majapahit merupakan Kesultanan Islam adalah kesimpulan yang terburu-buru dan perlu diteliti lagi kebenarannya.

Sumber

Read More --►

Fakta-fakta Terselubung Kerajaan Majapahit

Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasisi pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.
Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut.
Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.
‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya
dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’.
Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.
Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara.
Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat dimasa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut.
Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.
Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:
1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.
2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.
3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini.
Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.
4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.
Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo.
Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisanGajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’.
Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘LaIlaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.
5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu.
Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari TimurTengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranak pinak di tempat ini.
Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaanNusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit. Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarahitu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan.

 

Wallahu A’lam Bishshawab. Hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Sumber

Read More --►