B Ubaedillah Kamil

Bandung, Indonesia

085-222-999-xxx

76C486E5

bubaka2000@gmail.com
::
Start
[Bubaka2000]
Logout

Navbar3

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label Kisah Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Santri. Tampilkan semua postingan

Mengapa Orang Kafir Sebaik Apapun Tetap Masuk Neraka...?


Mengapa Orang Kafir Sebaik Apapun Tetap Masuk Neraka...?

Jawaban luar biasa ini membuat seorang pemuda Liberal terbungkam seribu bahasa.....!!!!
Pemuda Liberal : Ada orang baik banget, anti korupsi, bangun masjid, rajin sedekah sampai hidupnya sendiri dikorbankan buat menolong orang banyak, terus meninggal dan dia bukan Muslim, Dia masuk surga atau neraka....?
Dr. Zakir Naik : Neraka.....!!
Pemuda Liberal : Lahhh.....? Kan dia orang baik. Kenapa masuk neraka....??
Dr. Zakir Naik : Karena dia bukan Muslim....
Pemuda Liberal : Tapi dia orang baik. Banyak orang yang terbantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener deh, Tuhan kalau orang sebaik dia dimasukkan neraka juga.
Dr. Zakir Naik : Allah tidak jahat, hanya adil.
Pemuda Liberal : Adil dari mana....?
Dr. Zakir Naik : Kamu sekolahnya sampai tingkatan apa....?
Pemuda Liberal : saya ini Master Sains lulusan US , kenapa....?
Dr. Zakir Naik : Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US....?
Pemuda Liberal : Ya...karena kemarin saya kuliah disana, diwisuda disana.
Dr. Zakir Naik : Namamu terdaftar disana...? Kamu mendaftar...?
Pemuda Liberal : Ya jelas dong tuan, ini ijazah juga masih basah.
Dr. Zakir Naik : Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah....?
Pemuda Liberal : Jelas enggak, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.
Dr. Zakir Naik : Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar.....?
Pemuda Liberal : terdiam...😌
Dr. Zakir Naik : Gimana....?
Pemuda Liberal : Ya nggak jahat sih, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.
Dr. Zakir Naik : Nahhhh.....!! kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan.
Pemuda Liberal : kembali terdiam, tanpa berkata-kata....🤔
Semoga Allah senantiasa menetapkan iman & Islam kita juga keluarga kita, aamiin.. Semoga bermanfaat

MasyaAllah...

[Percakapan telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh seseorang, Jazakumullah Khoir]
Read More --►

Allah hanya memanggil tiga kali

Santri:

Kyai, saya pernah bertemu dengan orang yang belum mau beramal baik, alasannnya katanya bahwa ia masih menunggu hidayah dari Allah

Kyai :

 Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.

Santri  (sambil berkerut kening...) :
Sedikit sekali Allah memanggil kita...?

Kyai (menjelaskan lebih lanjut sambil tersenyum..) :
Panggilan pertama adalah "Adzan", Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar. Ketika kita Sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah.Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak ‘cepat marah’ akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak Sholat sama sekali karena malas.

Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Adzan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti’.

Santri :

Diam terpekur, dengan mata yang berkaca-kaca, karena terbayang ia masih melambatkan Sholat karena masih mengerjakan ini lah, masih sibuk itu lah, dan lain lain. Masya Allah…

Kyai melanjutkan :
Panggilan yang kedua adalah Panggilan "Haji", Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya ‘bergiliran’ . Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalan nya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak merencanakan, ternyata akan pergi, ada yang memang merencanakan dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji , berpakaian Ihram dan melafazkan ‘Labaik Allahuma Labaik’, sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang ke dua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji  bagi yang mampu’.

Dan panggilan ketiga adalah "KEMATIAN", Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu , manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah. Insya Allah syurga adalah balasannya.

Santri :
Semaik diam merenung, akankah panggilan untuk haji lebih dahulu dari panggilan untuk kembali pada-Nya...?
Read More --►

Bahkan sungai / laut pun tidak mampu mencelakai seorang bayi

 

Santri :

pak kyai, bulan depan saya mendapatkan tugas dari tempat kerja saya untuk mengerjakan suatu urusan di negeri orang, katanya di negeri itu banyak yang membenci islam. Bagaimana ini kyai mohon nasihatnya...!

Kyai :

Berlindung dan ber-tawaqal-lah hanya pada Allah, walaupun seluruh manusia di bumi ini akan mencelakaimu jika Allah tidak mengizinkan maka tidak akan jatuh sehelai rambutpun dari kepalamu...

Ingatlah tentang kisah nabi Musa alaihi salam dalam kondisi sangat lemah, bayi yg tak berdaya, terombang ambing oleh laut / sungai akan tetapi laut / sungai tidak mampu  memberi mudhorot kepadanya, bayi itu tetap sehat wal afiat bahkan bisa sampai ke tangan orang yang akan memeliharanya kelak. Karena Allah menghendakinya untuk selamat.

Allah berfirman

{فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ} ..

 "Jika engkau (ibu Musa) mengkhawatirkan bayimu Musa (yg hendak dibunuh oleh Fir'aun-pen) maka lemparkanlah ke al-yamm /laut...."

Coba bandingkan dengan kisah ayah angkatnya nabi Musa a.s. (Fir'aun), dipuncak kekuatan dan kesombongan bersama bala tentaranya akan tetapi akhirnya tidak mampu melawan air lautan...

 

Allah berfirman

{فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ} ..

 "Maka kamipun mengadzab fir'aun dan bala tentaranya lalu kami tenggelamkan mereka ke al-yamm /lautan"

Jadi jika kita berbuat karena Allah niscaya Allah SWT bersama kita, kelemahan kita tidak akan me-madharat-kan kita, tapi sebaliknya kekuatan kita tidak akan mampu menolong kita jika telah tiba hukuman dan siksa dari Allah SWT.

Santri :

Subhanallah... terima kasih pak kyai, sekarang saya semakin mantap untuk ber-tawaqal hanya kepada Allah.

 

Read More --►

Nasihat Shalat

Santri-1: Ayi, kamu tahu tidak  kenapa pa kyai selalu tak henti-hentinya mengingatkan kita untuk menunaikan sholat...,sholat...,sholat... dan sholat lagi.

Santri-2: Tidak tahu Kang, mungkin karena memnag shalat adalah merupakan kewajiban setiap muslim...

Santri-1: Benar, tapi bukan hanya itu, saya ingat ucapan pak kyai pada suatu waktu ketika mengaji dan membahas tentang pahala sholat. Bagaimana beliau menterjemahkan nilai pahala dengan angka bahwa Sholat bernilai 1 sedangkan amalan yang lain adalah bernilai 0. 

 Jika sholat saja yang kita kerjakan maka kita mempunyai nilai 1

jika kita puasa maka 1+0 = 10

jika ditambah zakat maka 10+0 = 100

jika ditambah bershodakoh maka 100+0 = 1,000

jika ditambah mengaji maka 1,000+0 = 10,000

jika ditambah pergi haji maka 10,000+0 = 100,000

trus dan trus hingga nilai pahala kita tak terhingga1,000,000,000,000............................

Jika kita tidak bisa melaksanakan satu ibadah yang lain maka akan kehilangan satu angka 0, tapi coba seandainya yang kita meninggalkan sholat maka angka kehilangan angka 1. Jadi 1,000,000,000..... jika kita hilangkan angka 1nya maka

000,000,000,000..= 0  maka tidak ada nilainya amal-amal kita.

Santri-2: Oh, gitu ya Kang, sekarang saya mengerti kenapa pak kyai dan orangtuaku mengingatkan aku untuk sholat

dan sholat. 

Santri-1: Sholat memang tiang agama

 

*)

Kang/Akang = panggilan untuk kakak / orang yang lebih tua usianya

Ayi = panggilan untuk adik / orang yang lebih muda usianya

Read More --►

Pelajaran dari Sebuah Jam - Edisi Santri

Setelah membaca artikel Pelajaran dari sebuah Jam, Santri-1 mengajak kepada adik kelasnya Santri-2 untuk mengkhatamkan Al-Quran selama bulan ramadhan, 

Santri-1 : Ayi, gimana kalau bulan ramadhan kali ini kita berusaha untuk mengkhatamkan alquran minimal sekali saja sebulan...!

Santri-2 : aduh Kang, kalau 30 juz mah sepertinya saya belum bisa, itu kan ada sekitar 300 lembar Kang...!

Santri-1: oh gitu ya, bagaimana kalau 1 lembar setiap sebelum shalat dan 1 lembar setelah shalat ?

Santri-2: ah, kalau itu mah sepertinya bisa saya usahakan Kang, boleh-lah, insya allah saya akan membaca 1 lembar setiap sebelum dan setelah shalat...

Santri-1: terimakasih akhi, semoga niatan kita ini diberkahi pahala berlimpah dari Allah Subhanahu wa ta'ala...

Santri-2: amien...

Read More --►

Membagi 17 ekor kambing

Dalam sebuah perjalanan, Santri tiba di sebuah desa miskin menerima bantuan dari pemerintah sebanyak 17 ekor kambing.

Setalah diteliti, maka terpilihlah 3 orang yg paling berhak untuk menerima bantuan kambing itu.

Orang pertama berhak mendapat 1/2 bagian, orang ke-2 mendapat 1/3 bagian, dan orang ke-3 Mendapat 1/9 bagian.

Permasalahan muncul ketika ke 3 orang ini ingin mendapatkan kambing dalam keadaan hidup ( alias utuh ) !

Sang kepala desa puyeng memikirkan bagamana caranya membagi kambing agar pas dan dalam keadaan utuh semua.

Di saat suasana sedang hot dan hampir menjadi kerusuhan, Santri mencoba menawarkan sebuah solusi kepada pak Kades, tapi sebelumnya Santri meminjam 1 ekor kambing milik pak Kades.

Walaupun pak kades terlihat nggak begitu rela, namun setelah pendapatkan penjelasan dan berjanji bahwa kambing itu pasti akan kembali, akhirnya pak Kades mau juga meminjamkan kambingnya. 

Nah sekarang ada 18 Ekor kambing, mari melakukan pembagian!!!

1/2 dari 18 = 9
1/3 dari 18 = 6
1/9 dari 18 = 2

Nah! 9+6+2 = 17 kan?

Kemudian kambing Pak Kades kembalikan lagi, seluruh penduduk desa berbahagia dan Santri pun melanjutkan petualangannya menolong mereka yang lemah...

Read More --►

Kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Gambar Ilustrasi. (Foto: arrahmah.com

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dalam sekolah Islam dan terdidik dengan ilmu Al-Quran. Ayahnya adalah seorang khalifah. Abdul Malik bin Marwan dan suaminya juga seorang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz. 

Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dalam sekolah Islam dan terdidik dengan ilmu Al-Quran. Ayahnya adalah seorang khalifah. Abdul Malik bin Marwan dan suaminya juga seorang khalifah, yakni Umar bin Abdul Aziz. Keempat saudaranya pun semua khalifah, yaitu Al Walid Sulaiman, Al Yazid, dan Hisyam. 

Ketika Fatimah dipinang untuk Umar bin Abdul Aziz, pada waktu itu Umar masih layaknya orang kebanyakan bukan sebagai calon pemangku jabatan khalifah.

Sebagai putera dan saudari para khalifah, perkawinan Fatimah dirayakan dengan resmi dan besar-besaran, dan ditata dengan perhiasan emas mutu-manikam yang tiada ternilai indah dan harganya. Namun sesudah perkawinannya usai, sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta. Umar berkata kepadanya, "Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua."

Fatimah bertanya kepada suaminya, "Memilih apa, kakanda?" 

Umar bin Abdul Aziz menerangkan, "Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai atau Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu." 

"Demi Allah," kata Fatimah, "Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku." 

Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit. 

Pada suatu hari raya puteri-puterinya datang kepadanya, "Ya Ayah, besok hari raya. Kami tidak punya baju baru…" 
Mendengar keluhan puteri-puterinya itu, khalifah Umar berkata kepada mereka. "Wahai puteri-puteriku sayang, hari raya itu bukan bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi bagi yang takut kepada ancaman Allah." 

Mengetahui hal tersebut, pengelola baitulmal berusaha menengahi, "Ya Amirul Mukminin, kiranya tidak akan menimbulkan masalah kalau untuk baginda diberikan gaji di muka setiap bulan." 

Umar bin Abdul Aziz sangat marah mendengar perkataan pengurus Baitulmal. Ia berkata, "Celaka engkau! Apakah kau tahu ilmu gaib bahwa aku akan hidup hingga esok hari!?" 

Ketika ajalnya hampir tiba, beliau meninggalkan 15 orang anak lelaki dan perempuan. Banyak keluarganya yang datang menanyakan apa yang ditinggalkannya pada keluarganya. Jawaban Umar bin Abdul Azis ialah, "Aku tinggalkan untuk mereka ketaqwaan pada Allah. Kalau mereka tergolong orang yang shaleh, maka Allah telah menjamin akan mengayomi mereka. Tetapi kalau mereka tergolong orang yang tidak sholeh, aku tidak akan meninggalkan apa pun yang bisa mereka gunakan untuk bermaksiat pada Allah." 

Kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan karib kerabat dan isterinya, Fatimah agar meninggalkannya seorang diri. Ujarnya, "Fatimah isteriku, keluarlah dan tinggalkan aku sendiri menyambut kedatangan makhluk asing yang sedang memasuki kamarku ini. Mereka bertubuh nurani, beraneka ragam sayapnya. Ada yang bersayap dua, tiga, dan empat. Tinggalkanlah aku sendirian wahai sayangku. Rohku sudah siap menyertai para pengawal itu menjadi tamu agung Allah Ar-Rahman." 

Menjelang rohnya menginggalkan jasadnya, beliau mengulang-ulang firman Allah swt : "Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa." 

Demikianlah Umar bin Abdul Aziz menginggalkan dunia yang fana ini. Dia digantikan oleh iparnya, Yazid bin Abdul Malik. 
Pada suatu hari Yazid memanggil saudarinya, Fatimah seraya berkata, "Fatimah, aku tahu suamimu, Umar bin Abdul Aziz telah merampas semua perhiasanmu dan memasukkannya ke Baitulmal. Kalau engkau mau, maka akan kukembalikan lagi perhiasan itu kepadamu." 

Dengan tegas Fatimah menjawab, "Ya Yazid, apakah kau hendak memaksaku mengambil apa yang oleh Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz telah diberikan kepada Baitulmal? Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, aku tidak akan menaatinya pada waktu hidup dan menggusarkannya sesudah beliau meninggal dunia walaupun hanya sedikit." 

Kekuasaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya berusia tiga puluh bulan, tetapi kekuasaannya yang singkat itu bagi Allah Taala bernilai lebih dari tiga puluh abad. Beliau meninggalkan dunia fana ini dalam usia muda, yakni pada usia empat puluh tahun. 

Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekuasaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya. 

ISYARAT KEROHANIAN MENGENAI KEPEMIMPINANNYA 

Imam Tarmizi meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa khalifah Umar Al-Khattab berkata : "Dari kalangan zuriatku akan ada seorang lelaki ;berparut di wajahnya. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan." Ternyata isyarat in terjadi kepada Sayidina Umar bin Abdul Aziz, sewaktu kecil beliau telah dilukai seekor binatang tepat di dahinya. Bapaknya menyapu darah yang mengalir di kepalanya lantas berkata, "Kalau engkau lah lelaki berparut di dahi yang diisyaratkan itu, niscaya engkaulah orang yang bahagia." 

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. Di zaman pemerintahan Khalifah Al- Walid beliau dilantik menjadi gubernur Madinah dan pada tahun 99H beliau resmi menjadi khalifah sesudah wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abd, Malik. 

CIRI-CIRI TAJDIDNYA DAN SUASANA DI ZAMANNYA 

Di zaman itu imperium Islam makin meluas, kerajaan banyak mengutus misi-misi ketenteraan untuk membuka negara Afrika, Khurasan dan lain-lain. Mayoritas umat Islam adalah baik karena mereka masih berada dalam lingkungan tiga kurun yang dijanjikan, namun Bani Umaiyah yang memerintah waktu itu memang terkenal dengan kehidupan mereka yang bermewah-mewah dan banyak melanggar perintah Allah. 

Sistem kekhalifahan Bani Umaiyah mengikuti budaya para raja (monarki) dimana sistem itu bertentangan dengan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mengamalkan sistem Syura. Karena itulah Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengembalikan sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin. Pada hari pelantikannya Sayidina Umar bin Abdul Aziz naik ke atas mimbar masjid Umawi di Damsyik lalu mengistiharkan peletakan jabatannya dan tidak akan memerintah melainkan jika dilantik secara syura. Ketika beliau turun dari mimbar, orang banyak membaiahnya dan melantiknya sekali lagi menjadi khalifah berdasarkan sistem syura. 

MENEGAKKAN KEADILAN 

Beliau menegakkan keadilan di dalam pemerintahannya. Penguasa-penguasa yang zalim dipecat dan digantikan dengan orang yang lebih layak untuk memperbaiki keadaan masyarakat.

Yahya Al-Ghassani menceritakan : Seorang gubernur menulis surat kepada beliau :

 

Wahai amirul mukminin, negeri kami ini telah rusak, alangkah baiknya jika tuan memberi jalan untuk memulihkan negeri kami. Khalifah Umar menjawab surat itu dengan berkata, Apabila engkau membaca suratku ini hendaklah engkau memagari negerimu dengan keadilan dan bersihkanlah jalan-jalannya dari kezaliman. Sesungguhnya itulah pemulihannya, wassalam.

SANGAT MEMBELA KESEJAHTERAAN RAKYAT 

Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya sehingga mereka merasa tercukupi segala keperluannya. Pernah terjadi di zamannya seorang lelaki membawa harta yang begitu besar jumlahnya kemudian ingin membagikan kepada yang memerlukan, namun tidak ada seorang pun yang datang untuk mengambil harta itu karena mereka telah tercukupi keperluannya. 

Sebelum menjadi khalifah Saiyidina Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang hidup mewah dari harta yang halal. Namun begitu dilantik menjadi khalifah segala harta bendanya diserahkan kepada baitul mal, beliau begitu serius menjalankan amanah Allah hingga tidak ada waktu lagi untuk hal-hal lain. Isterinya meriwayatkan bahwa setiap kali beliau pulang ke rumah malam hari, beliau akan duduk di tempat sembahyang menangis dan berdoa hingga tertidur. Apabila beliau terjaga beliau menangis dan berdoa lagi dan begitulah seterusnya hingga subuh. 

KEBERKATAN PIMPINANNYA 

Malik bin Dinar (seorang ulama salaf yang terkenal) menceritakan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz naik menjadi khalifah para penggembala kambing di lembah dan kampung menjadi tertanya-tanya, siapakah gerangan lelaki soleh yang menjadi khalifah ini? Keadilannya menahan srigala dari menerkam kambing-kambing kami. 

Pernah terjadi di zamannya Panglima Qutaibah bin Muslim ditugaskan memimpin misi membuka kota Samarkand yang masih Nasrani pada waktu itu. Qutaibah telah melaksanakan tugasnya dengan langsung menyerang Samarkand tanpa memberi tiga pilihan (masuk Islam, membayar jizyah atau perang) terlebih dahulu kepada penduduknya. 

Pendeta-pendeta Samarkand tidak puas hati lalu mengutus surat melaporkan hal itu kepada khalifah Umar dan menuntut Qutaibah beserta tentaranya keluar dari Samarkand, karena mereka menaklukkannya tanpa mengikuti syariat.

Khalifah mengakui perkara itu lantas mengarahkan agar tentaranya keluar dari Samarkand tanpa syarat. Tentara-tentara beliau pun patuh dan masyarakat Samarkand yang menyaksikan hal itu begitu terkesan dengan keadilan Islam hingga mereka beramai-ramai mengucapkan 2 kalimah syahadat. Dengan berkat kepemimpinannya juga zamannya merupakan zaman keemasan umat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah. 

KEDUDUKANNYA DI SISI PARA ULAMA 

Umar bin Abdul Aziz bukan saja seorang pemimpin yang ditunjuk oleh Allah bahkan beliau juga seorang ulama yang ulung di zamannya. Disebutkan bahwa para alim ulama di zamannya hanyalah bertaraf murid-muridnya. Setiap malam beliau akan berkumpul dengan ahli-ahli fiqih untuk bermuzakarah. 

Beliau wafat tahun 101H dalam usia 39 tahun, pemerintahannya yang penuh berkat itu hanya berlangsung 2 tahun. Ketika wafatnya khalifah, Musa bin AÕrun berkata, Pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz kambing kami digembala bersama-sama dengan serigala. Namun pada satu malam seekor serigala telah menerkam kambing kami. Tidak lain pasti lelaki soleh ini (Umar bin Abdul Aziz) telah wafat. Dan memang mereka mendapatkan beliau wafat pada malam tersebut. (ar/oq/mq) www.suaramedia.com

Read More --►