B Ubaedillah Kamil

Bandung, Indonesia

085-222-999-xxx

76C486E5

bubaka2000@gmail.com
::
Start
[Bubaka2000]
Logout

Navbar3

Search This Blog

Tahukah Anda : CD [ Compact Disk ]

Apa jadinya jika hobi atau kesenangan kita terganggu? Pastinya, kita akan merasa kurang nyaman. Atau, bahkan kita jadi jengkel karena hal tersebut. Namun, di tangan orang kreatif, jika kesenangan mendapat halangan, rupanya justru bisa berujung pada temuan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Proses kreatif akibat kekesalan karena kesenangan terganggu dialami oleh sosok bernama James T. Russell. Ilmuwan yang sudah akrab dengan aneka barang elektronik sejak usia enam tahun ini suatu kali merasa jengkel karena hobinya mendengarkan musik terganggu. Pertama, ia merasa terganggu karena kualitas suara yang dihasilkan media pemutar musiknya kala itu dirasa kurang enak di telinga. Kedua, seringkali alat pemutar musik, yang kala itu masih menggunakan semacam stylus atau jarum, seperti yang dipakai pada piringan hitam, membuat musiknya seringkali meloncat-loncat. Maka, bukannya santai menikmati musik, malah ketidaknyamanan yang ia dapati.

Mengalami hal ini, James yang memang seorang penemu, mencoba mencari cara bagaimana membuat media musik yang lebih nyaman. Dan, tentunya, ia pun berharap, bisa menghasilkan kualitas suaranya lebih jernih. Maka, ia pun berkutat di laboratorium tempatnya bekerja di Pacific Northwest Laboratory di Richland, Washington.

Saat itu, ia mengotak-atik sistem kerja berdasar optik yang bekerja dengan sistem pencahayaan. Data dikenali dengan sistem binari 0 dan 1 yang dikombinasikan dengan sistem terang dan gelap. Berkali-kali ia mencoba. Berkali-kali pula James mengalami hambatan. Namun, demi mendapatkan apa yang dia inginkan, ia terus mencoba dan mencoba lagi.

Beberapa tahun kemudian, di akhir tahun 1960-an, akhirnya ia bisa memformulasikan sistem yang akhirnya menjadi rekaman digital optikal yang pertama. Ia pun mematenkan karyanya tersebut pada sekitar tahun 1970. Tapi, tak berhenti di situ. Sebagai penemu, ia terus ingin menyempurnakan karyanya itu. Tak kurang 26 paten sebagai bentuk penyempurnaan CD pertama itu diterimanya hingga tahun 1985.

Di tangan orang yang kreatif dan mau bekerja keras, sebuah masalah ternyata justru mampu menjadi karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Kalau sudah begini, hadirnya masalah bukan jadi musibah, namun justru menjelma jadi berkah.

Sumber



Read More --►

Tahukah Anda : Mesin Foto Copy

Pernahkah Anda membayangkan, harus menulis dan menggambar sesuatu yang sama untuk memperbanyak dokumen dengan tangan? Berterima kasih lah pada mesin fotokopi. Sebab, dengan mesin fotokopi saat ini kita dapat dengan mudah memperbanyak gambar dan tulisan berapa pun banyaknya. Tinggal pencet tombol, tunggu sejenak, semua pekerjaan penggandaan beres.

Ternyata, mesin fotokopi yang ada saat ini berasal dari kerepotan yang dialami seorang pria bernama Chester F. Carlson. Ia semula adalah pekerja di sebuah perusahaan analisis paten untuk pembuat produk elektronik. Tugasnya saat itu adalah menyalin semua dokumen dan gambar paten ke dalam beberapa dokumen. Tentu, ini adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Apalagi, saat itu semua dikerjakan dengan tangan. Karenanya, untuk membuat beberapa dokumen, perlu waktu yang tak sedikit, bahkan berjam-jam.

Karena kelelahan, Chester pun kemudian berpikir. Bagaimana ia bisa menggandakan dokumen dengan cepat dan praktis. Tidak seperti yang ia lakukan sebelumnya. Suatu kali, pemuda cerdas ini pun menemukan ide. Ia menggunakan konsep yang disebut photo-conductivity, sebuah proses perubahan elektron jika terkena cahaya. Intinya, dengan proses ini, gambar bisa digandakan dengan proses perubahan elektron tersebut. 

Beberapa tahun ia mencoba menyempurnakan temuannya ini. Dan, setelah sekian lama, temuannya yang diberi nama electric photography ini dipatenkan pada 1942. Meski sangat berguna, alat tersebut rupanya tak bisa langsung jadi populer. Chester yang berhasil membuat alat itu harus berjualan konsep bertahun-tahun lamanya agar mesin fotokopi itu bisa dijual di pasaran. Berbagai perusahaan besar seperti IBM, GE, dan RCA menolak temuan itu. Setelah hampir putus asa, ia kemudian menawarkan ide itu pada perusahaan yang bernama Haloid Company. Ternyata, konsep itu diterima. Buah perjuangan 20 tahunan menjual ide itu akhirnya menjadi kisah membahagiakan. Haloid Company kemudian mengenalkan produk mesin fotokopi pertama itu dengan nama Xerox.

Kini, Xerox telah sukses di pasaran. Haloid Company pun berubah namanya jadi Xerox Company. Chester juga telah membuktikan, buah karyanya ternyata kini bermanfaat di seluruh dunia.

Sumber



Read More --►

Tahukah Anda : Lift [ Elevator ]

Bisa Anda bayangkan, betapa capainya jika kita harus menaiki beratus bahkan beribu anak tangga untuk menaiki sebuah gedung pencakar langit. Sehat? Pasti. Capai? Iya juga. Karena itu, berterima kasihlah pada teknologi lift. Anda tinggal masuk ke sebuah ruang kecil, memencet tombol pada nomor lantai yang hendak dituju, tunggu sejenak, dan, Anda pun sudah berada pada ruangan di lantai tertentu. Tanpa harus keluar keringat, tanpa harus bersusah payah menaiki anak tangga.

Jaman dahulu, lift memang sudah ada sejak mulai dibangun sejumlah gedung bertingkat. Sayangnya, tingkat keamanan dan kenyamanannya masih kurang memadai. Bahkan, risiko putus kabel lift sering membuat sebuah gedung atau bangunan menjadi kurang aman. 

Suatu ketika, seorang bernama Elisha Otis (1811-1861), merasakan hal yang sama tentang masalah keamanan ini. Waktu itu, bersama karyawannya, ia hendak mengangkat sebuah barang ke gudang. Kelahiran Halifax Vermont Amerika ini, karena melihat risiko yang sangat tinggi, lantas berpikir untuk mencari cara paling aman untuk mengangkat barang dengan lift atau elevator.

Bertahun-tahun ia memikirkan bagaimana solusinya agar hal itu bisa diatasi. Dengan berbagai percobaan, akhirnya pada sekitar tahun 1853, di sebuah gedung bernama Crystal Palace Exposition di New York, ia mendemonstrasikan penemuannya, sebuah penyempurnaan elevator.

Ia pun menjalankan lift tersebut seperti layaknya lift saat ini. Namun, ketika massa berkerumun di bawah melihat aksinya, ia pun berbuat sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Otis menyuruh asistennya memotong kabel lift yang dinaikinya. Sudah tentu, hal ini mengundang ketakutan sejumlah orang yang menyaksikan. Namun, saat kabel telah terpotong, ternyata lift itu diam tak bergerak. Lift itu aman-aman saja berada di tempat semula. Ternyata, Otis telah menciptakan semacam rel penahan pada masing-masing sisi lift, sehingga mampu menahan lift tersebut agar tidak jatuh. Sebuah penemuan fenomenal yang membuat lift kini makin aman dan nyaman digunakan siapa saja.

Sumber


Read More --►