Ingin Kaya? Hindari 5 Penyakit Mental ini Ingin Kaya? Hindari 5 Penyakit Mental ini
Konsep 5US - Kunci Tawakal Konsep 5US - Kunci Tawakal
- Pantang sia-sia
- Usahakan selalu tepat waktu
- Tak pernah menunda
- Ada target
[Aa Gym]
7 Ciri Pemimpin yang Baik 7 Ciri Pemimpin yang Baik
7 Ciri Pemimpin yang Baik
Menjadi pemimpin tidaklah mudah. Apalagi untuk menjadi pemimpin yang baik. Seorang pemimpin kerap dipandang sempurna oleh para bawahannya. Sedikit salah, bisa jadi bahan omongan anak buahnya.
Padahal menjadi orang yang sempurna yang tak pernah salah jelas mustahil. Yang bisa adalah upaya untuk terus memperbaiki diri agar menjadi pemimpin yang lebih baik.
Lantas seperti apakah pemimpin yang baik? Apakah ciri-ciri pemimpin yang baik? Dan bagaimana menjadi pemimpin yang baik?
Pemimpin yang baik diukur dari tindakannya, bukan sekedar pandai berteori, namun miskin pelaksanaan. Untuk menjadi pemimpin yang baik, coba terapkan hal-hal berikut ini pada diri anda.
- Kembangkan setiap karyawan. Setiap pemimpin yang baik selalu mengembangkan karyawannya. Dengan SDM yang kuat, tujuan yang ingin dicapai perusahaan pun akan lebih mudah dicapai. sebab itulah pemimpin yang hebat selalu mengembangkan anak buahnya.
- Sikap positif dan menginspirasi. Pemimpin itu harus selalu punya sikap positif. Ini penting agar tim anda tetap termotivasi. Menciptakan suasana yang positif juga sangat baik untuk meningkatkan produktivitas tim anda.
- Mampu mendelegasi. Delegasi tugas amat penting bagi seorang pemimpin. Pemimpin harus bisa mendelegasikan tugasnya pada orang yang tepat. Agar pemimpin bisa belajar untuk mempercayai timnya. Selain itu agar pemimpin bisa fokus mengerjakan tugas yang lebih penting.
- Komunikasi. Kemampuan komunikasi amat penting bagi seorang pemimpin. Sehingga pesan yang disampaikan bisa jelas. Kemampuan berkomunikasi yang jelas ini juga penting agar pemimpin bisa menyelarasakan semua anggota timnya menuju tujuan yang diinginkan.
- Cepat menangani masalah. Ketika muncul masalah, segera seorang pemimpin mencari jalan pemecahannya. Agar masalah itu cepat tertangani dan mendapat solusinya. Sehingga masalah yang muncul tak sampai berlarut-larut.
- Humoris. Seorang pemimpin yang hebat itu biasanya juga dilengkapi dengan sense of humor yang baik. Mereka bisa membuat timnya tetap tertawa sekalipun mungkin sedang dilanda masalah. Ini penting agar masalah yang timbul tidak menjadi beban, namun tetap bisa diselesaikan dengan hati senang.
- Percaya diri. Seorang pemimpin yang baik itu punya rasa percaya diri yang baik. Di saat-saat genting sekalipun, seorang pemimpin bisa mengangkat moral timnya sehingga masalah yang muncul bisa diatasi dengan baik.
Itulah tujuh ciri pemimpin yang baik.
Sumber : JokoSusilo.com
7 Ciri Orang 'Sok Tahu' 7 Ciri Orang 'Sok Tahu'
‘Sok tahu’ pada dasarnya adalah “merasa sudah cukup berpengetahuan” padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa kita ‘sok tahu’? Mari kita mengambil hikmah dari Al-Qur’an. Ada beberapa ciri ‘sok tahu’ yang bisa kita dapatkan bila kita menggunakan perspektif surat al-’Alaq.
1. Enggan Membaca
Ketika disuruh malaikat Jibril, “Bacalah!”, Rasulullah Saw. menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi beliau untuk optimis. Adapun orang yang ‘sok tahu’ pesimis akan kemampuannya. Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, “Ngapain baca-baca teori. Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya ‘kan?” Padahal, Allah pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita ketahui.
Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga enggan memperdalam. Katanya, misalnya, “Ngapain baca-baca Qur’an lagi. Toh udah khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja.” Padahal, Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu, sumber ‘cahaya’ yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan dunia. Katanya, misalnya lagi, “Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga tamat kuliah udah diajarin terus.” Padahal, ‘ilmu agama’ adalah ilmu kehidupan dunia-akhirat.
2. Enggan Menulis
Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. “Ngerepotin,” katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal, sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia.
Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis. “Susah,” katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan. Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis ‘sesuka hati’? Apa susahnya nulis di buku harian, misalnya, “Tentang ciri sok tahu, lihat al-’Alaq!”?
3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan
Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-Allah.
Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh ‘tukang fatwa’, semua pertanyaan ia jawab sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.
4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham
Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya, segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid’ah, sesat, meremehkan agama, dan sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya sebagai “Yang Maha Tahu”, terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman: “Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri dari kejahatan.” (an-Najm [53]: 32)
Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan gampangnya ia mengeluarkan ‘vonis hukuman mati’. Padahal, dalam sebuah hadits shahih dari Usamah bin Zaid dikabarkan, “Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah.”
5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain
Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut, melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi).
Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya sendiri. Seolah-olah ia berseru, “Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami. Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya.” Orang yang terlalu fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, “Yang haq adalah haq, yang bathil adalah bathil.”
6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat
Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, “Menurut Islam begini…. Islam sudah jelas melarang begitu….” dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan sesungguhnya hanyalah, “Menurut saya begini…. Saya melarang keras engkau begitu….” dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, “Menurut saya bla bla bla….”, ia hanya mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli maupun aqli.
7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.
Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-’Alaq dalam pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok tahu. Aamien.
Aisha Chuang
Sumber : Oase Iman
Pertanyaan yang Membuat Anda Lebih Fokus Pertanyaan yang Membuat Anda Lebih Fokus
Cara terbaik mengendalikan hidup adalah melalui pertanyaan kepada diri sendiri. Tahukah Anda bahwa bertanya dengan benar kepada diri sendiri dapat menyelamatkan hidup?
Stanislavsky Lech terhenyak ketika tiba-tiba Nazi datang dan menawan dirinya dan seluruh keluarganya. Mereka digiring seperti ternak guna dikirim ke kamp pembantaian di Krakow. Ia depresi berat ketika menyaksikan pembantaian anaknya. Terlebih lagi ketika baju anaknya -yang dipakai saat ditembak mati- dipakai anak lain setelah hari itu.
Ia berusaha bertahan hidup. Suatu hari ia berfikir, jika tetap tinggal, ia akan mati. Ia berfikir bahwa ia harus hidup. Ia bertanya kepada sesama napi, “Bagaimana saya dapat melarikan diri?”
Dan jawab napi lain selalu sama, “Jangan bodoh kau! Berdoalah yang banyak, semoga kau selamat!”
Setiap hari ia selalu bertanya kepada dirinya sendiri, “Bagaimana saya dapat keluar dari kamp pembantaian ini dengan hidup, selamat, sehat dan sekarang juga?”
Akhirnya ia mendapatkan gagasan melarikan diri dengan menyamar menjadi mayat. Ia merobek-robek bajunya, dan berbaring seperti mayat yang akan diangkut truk. Sesudah menunggu lama, akhirnya truk pengangkut mayat datang. Setelah tiba di kuburan, mayat dikeluarkan dari truk. Ia menunggu hingga larut malam. Setelah yakin tidak ada yang melihat, ia lari telanjang sejauh 25 mil.
Apa perbedaan Stanislavsky dengan teman napi yang lain? Ada banyak faktor. Tetapi perbedaan utamanya adalah ia melontarkan pertanyaan. Ia bertanya serius guna mendapatkan jawaban. Pertanyaan menyebabkan ia membuat keputusan yang cukup berpengaruh terhadap tujuannya. Sebelum mengambil tindakan, membuat keputusan, mendapatkan jawaban, ia bertanya kepada diri sendiri dengan pertanyaan yang tepat!
Anda sebaiknya bertanya sepanjang hari. Pertanyaan mengendalikan fokus. Hentikan bertanya seperti ini, “Mengapa hidup tidak adil?”,
“Mengapa cita-cita saya gagal?”
dan gantilah menjadi dengan menanyakan dengan hal-hal yang memberikan jawaban berguna.
Misalnya:
- Apa yang dapat membuat saya hidup bahagia saat ini?
- Apa yang membanggakan dalam hidup ini?
- Apa anugerah dalam hidup ini yang sudah saya rasakan?
- Apa yang telah saya pelajari dalam hidup hari ini?
- Apa nilai tambah hidup saya hari ini?
Pertanyaan-pertanyaan diatas akan membuat Anda lebih fokus, dan akan membuat hidup Anda lebih hidup.
Oleh: Anthony Robbins Notes from A Friend.
Sumber: QuickStart
Filosofi Lisan Filosofi Lisan
Sayyidina Ali K.W berkata:
1. Lisan orang mukmin bermula dari belakang hatinya, sedangkan hati orang munafik bemula dari belakang lisannya.
2. Tidaklah lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lisannya.
3. Demi Allah, tidaklah aku melihat seorang hamba bertaqwa dengan taqwa yang membawa manfaat baginya sehingga dia menyimpan lisannya.
4. Sesungguhnya lisan ini senantiasa tidak mematuhi pemiliknya.
5. Berbicaralah, niscaya kalian akan dikenal karena sesungguhnya seseorang tersembunyi di bawah lisannya.
6. Ketenangan seseorang terdapat dalam pemeliharaannya terhadap lisannya.
7. Lisanmu menuntutmu apa yang telah engkau biasakan padanya.
8. Lisan laksana binatang buas, yang jika dilepaskan, niscaya ia akan menggigit.
9. Jika lisan adalah alat untuk mengekspresikan apa yang muncul dalam pikiran, maka sudah seyogyanya engkau tidak menggunakannya dalam hal yang tidak ada dalam pikiran itu.
10. Perkataan tetap berada dalam belenggumu selama engkau belum mengucapkannya. Jika engkau telah mengucapkan perkataan itu, maka engkaulah yang terbelenggu olehnya. Oleh karena itu, simpanlah lisanmu, sebagaimana engkau menyimpan emasmu dan perakmu. Ada kalanya perkataan itu mengandung kenikmatan, tetapi ia membawa kepada bencana.
11. Sedikit sekali lisan berlaku adil kepadamu, baik dalam hal menyebarkan keburukan maupun kebaikan.
12. Timbanglah perkataanmu dengan perbuatanmu, dan sedikitkanlah ia dalam berbicara kecuali dalam kebaikan.
13. Sesungguhnya ada kalanya diam lebih kuat daripada jawaban.
14. Jika akal telah mencapai kesempurnaan, maka akan berkuranglah pembicaraannya.
15. Apa yang terlewat darimu karena diammu lebih mudah bagimu untuk mendapatkannya daripada yang terlewat darimu karena perkataanmu.
16. Sebaik-baik perkataan seseorang adalah apa yang perbuatannya membuktikannya.
17. Jika ringkas (dalam perkataan) sudah mencukupi, maka memperbanyak (perkataan) menunjukkan ketidakmampuan mengutarakan sesuatu. Dan jika ringkas itu dirasa kurang, maka memperbanyak (perkataan) wajib dilakukan.
18. Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahannya; barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit malunya; barangsiapa yang sedikit malunya, maka sedikit wara’nya‘ (kehati hatian dalam beragama); barangsiapa yang sedikit wara’nya, maka mati hatinya; dan barangsiapa yang mati hatinya, maka dia akan masuk neraka.
Kenapa Sebagian Orang Kaya dan Kebanyakan Orang Miskin ? Kenapa Sebagian Orang Kaya dan Kebanyakan Orang Miskin ?
Judul di atas sedikitpun tiada maksud untuk melecehkan orang miskin atau meninggikan orang kaya. Juga bukan untuk menjawabnya secara normatif, bahwa itu disebabkan hukum alam dimana sampai kapanpun orang kaya akan selalu ada seperti juga adanya orang miskin.
Melainkan posting ini saya maksudkan agar kita bisa belajar dari cara orang kaya dalam mengumpulkan kekayaan melimpah; dan bagaimana berupaya menerapkannya dalam kehidupan masing-masing agar kehidupan anda menjadi lebih baik.
“Kenapa Sebagian Orang Kaya dan Kebanyakan Orang Miskin?”
Pertanyaan ini selalu menarik untuk dibahas. Banyak orang memiliki pendapatnya mengenai hal ini. Namun yang menarik adalah banyak fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang semula tidak memiliki apa-apa dan secara finansial hidupnya pas-pasan, namun kemudian bisa merubah hidupnya 180 derajat. Mengapa ini bisa terjadi? Sementara, banyak orang lainnya tetap tidak mampu merubah keadaan hidupnya sedikit lebih baik.
Sering juga fakta menunjukkan bahwa orang-orang yang sudah kaya, dalam tahun-tahun berikutnya hartanya terus bertambah. Uang dan kekayaan yang mereka kumpulkan bertambah banyak dan semakin banyak. Sebaliknya, fakta menyedihkan lainnya, ada banyak orang miskin yang jangankan menambahkan kekayaan, sedikit uang yang dimilikinya pun ikut amblas tak berbekas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mengapa ini bisa terjadi?
Kata-kata sukses bilang: “Anda adalah apa yang anda pikirkan.” Ketika anda memenuhi pikiran anda dengan hal yang penuh kekurangan, hidup anda pun akan seperti itu. Sebaliknya ketika pikiran anda dipenuhi dengan keberlimpahan, maka itu juga yang terbentuk dalam kehidupan anda.
Dari pikiran anda membentuk dunia anda. Seperti apa dunia yang ingin anda buat bergantung dari apa yang awalnya anda pikirkan.
Orang-orang sukses memenuhi pikirannnya kapan saja dengan keberlimpahan, kebermanfaatan, dan solusi. Pikiran-pikiran keberlimpahandan positif itu akan memacu anda menjadi lebih peka terhadap apa yang anda anggap penting.
Orang-orang sukses tidak akan menyibukkan pikirannya dengan rasa menyerah, mengeluh, menyalahkan, atau putus asa. Segala pikiran kenegatifan adalah cermin ketidakmampuan untuk mengontrol pikiran sendiri.
Kalau orang kaya selalu berpikir dalam alam “keberlimpahan”, sebaliknya kebanyakan orang-orang miskin memenuhi benaknya dengan pikiran serba kekurangan, perasaaan sebagai orang kecil, sebagai orang yang tak punya, dan hal-hal yang serba “minimal” lainnya.
“Kalau saya belum kaya, bolehkah saya tiru cara berpikir orang kaya, Pak Joko?”
Jika dari anda ada yang bertanya demikian, justru itu sangat saya anjurkan. Sekalipun saat ini anda belum kaya, tapi anda mau menjadi kaya, saya anjurkan ikuti bagaimana cara berpikir orang kaya seperti cara di atas.
So, mulai hari ini mari berubah. Sekarang mari saya pandu anda melakukan resolusi perubahan dalam hidup anda.
Pertama, mari katakan kata-kata berikut. Konsentrasi sebentar, ucapkan dalam hati dan keluarkan suara anda. Mari mulai: “Mulai hari ini saya akan berpikir seperti orang kaya yang dipenuhi keberlimpahan. Saya tidak akan membatasi pikiran saya dengan keterbatasan/kesulitan. Bahwa saya PASTI BISA! Tidak ada yang mustahil untuk saya capai.”
Kedua, coba ikuti kata-kata berikut: “Mulai hari ini saya tidak akan pernah merendahkan diri saya sendiri dengan mengatakan saya tidak bisa, saya tidak mampu, atau hal-hal yang menunjukkan kelemahan. Dalam hal apa saja, saya optimis bahwa saya PASTI BISA! Atau sekurang-kurangnya saya mau belajar yang ditindaklanjuti dengan ACTION!“
Sekarang tegakkan dagu anda, tatap pandangan ke depan dan mulailah berpikir seperti orang kaya. Ini akan mengubah hidup anda. Asal disertai dengan ACTION tentunya!
Apakah Anda Pemberani ? Apakah Anda Pemberani ?
meskipun dia belum berpengalaman
meskipun dia tidak memiliki uang untuk itu
meskipun banyak orang meragukan kesempatan keberhasilannya
meskipun telah banyak orang gagal dalam upaya yang sama
meskipun sama sekali tidak ada jaminan
meskipun sebetulnya dia sangat ketakutan
dan meskipun lebih mungkin baginya untuk gagal.
Anda tidak bisa membangun kehidupan yang luar biasa dengan keberanian yang biasa.
Keberanian adalah sebuah kualitas yang memaksimalkan.
Jika Anda berani, Anda akan memaksimalkan kebesaran dan ketinggian dari yang ingin Anda capai. Yang selain itu, adalah pembatasan kebebasan hati.
Jika Anda berani, Anda akan memaksimalkan upaya Anda untuk mencapai yang Anda inginkan. Yang selain itu, adalah pembatasan kesediaan bekerja.
Jika Anda berani, Anda akan memaksimalkan tanggung-jawab yang Anda pikul.
Yang selain itu, adalah pembatasan potensi.
Jika Anda berani, Anda akan memaksimalkan ukuran dan nilai dari kontribusi Anda.
Yang selain itu, adalah pengkerdilan hak untuk menerima.
Jika Anda berani, Anda akan memaksimalkan peran yang Anda minta dari Tuhan. Yang selain itu, adalah pengecewaan tujuan hidup Anda.
Mario teguh
Tiga Kunci Sukses Tiga Kunci Sukses
Kunci 1:
Pengetahuan yang Dilakukan
Suatu kali, Peter Spann, penulis buku Wealth Magic dan jutawan dari Australia diminta datang ke tempat temannya. Sang teman akan memberitahukan satu kunci menuju kekayaan dan kesuksesan luar biasa. Waktu itu, Peter adalah seorang pemuda yang berada diambang putus asa. Kehidupannya sedang meluncur ke titik nadir. Dijanjikan suatu hal yang ia idam-idamkan, Peter sangat bersemangat menunggu waktu perjumpaannya dengan sang teman.
Akhirnya hari itu pun tiba. Peter telah bersiap dan tampil dengan performa terbaiknya. Ia berpikir: “Inilah momen luar biasa dalam hidupku. Aku harus menyambutnya dengan tampilan terbaik.” Berangkatlah Peter ke tempat temannya. Mengendarai mobil bututnya. Mobil yang bila ada lampu merah dan berhenti, punya kemungkinan mogok di atas 75%. Jadi bila ia sampai di lampu merah, Peter pun berteriak: “Hijau, hijau, hijau”. Sampai disana, Peter disambut sang teman. Mereka pun duduk dan mulai ngobrol. Sampai tibalah pada saat menegangkan itu. Sang teman pun menjelaskan kunci suksesnya :
“Peter, kalau kamu mau sukses dan kaya raya, kuncinya cuma satu : Lakukan apa-apa yang kamu ketahui.
PENGETAHUAN YANG DILAKUKAN ADALAH KUNCI UTAMA KESUKSESAN”
Peter bengong. Ia tak menduga teman suksesnya akan mengatakan hal sederhana itu. Ia menduga kunci sukses itu pastilah sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang spesial dan rahasia. Sesuatu yang... wah. Tapi ternyata yang ia dapati adalah hal sederhana itu.
Temannya tertawa. “Peter, aku tahu kamu kaget. Kamu pasti menduga kunci sukses itu sesuatu yang luar biasa. Tidak Peter. Mencapai sukses adalah hal sederhana. Karena itu kuncinya pun sederhana. Pengetahuan yang dilakukan. Semua orang dapat melakukannya. Artinya semua orang dapat menjadi sukses.”
Sepulang dari tempat temannya, Peter mulai melakukan kunci sukses itu. Dari hari ke hari ia berkembang. Tujuh tahun semenjak hari itu, Peter Spann telah berubah dari pemuda melarat menjadi konglomerat baru di Australia. Pengetahuan yang dilakukan telah memberi bukti keberhasilannya. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Nah saudara, buku ini adalah pengetahuan mencapai sukses itu. Pengetahuan itu begitu sederhana. Tapi bila hal sederhana ini tidak dilakukan, maka sukses pun tidak dapat diraih.
Selamat melakukan pengetahuan anda.
Selamat meraih sukses.
Kunci 2:
Bayar Harga Kesuksesan
“Saya siap bayar Rp. 10 juta.” Begitu kata klien yang juga teman saya. Bagi dia, Rp.10 juta sangat besar artinya. Tapi ia mau membayarnya. Untuk satu transaksi. Gimana ceritanya bisa begitu?
Ia punya keinginan. Menikah. Ia telah berusaha sekuat tenaga. Sekian tahun belum berhasil. Padahal, ia telah mulai mapan. Gajinya lumayan. Pendapatannya pun bertambah dari proyek-proyek yang ia garap. Posisi karirnya terus menanjak. Ia pun gadis yang cantik.
Kami pun bertemu. Ia ceritakan masalahnya. Berikut perbincangan kami, sampai ia mau bertransaksi senilai sepuluh juta rupiah itu.
Klien : “Di , saya benar-benar ingin menikah. Orang tua saya mendesak terus.”
Penulis : “Itu wajar. Namanya juga orang tua. Ingin cepat nimang cucu, kan?”
Klien : “Saya udah berusaha keras. Tapi sampai sekarang gagal terus. Saya jadi bosen. Sekarang, saya jadi enjoy ke kerjaan. Saya malah ingin lanjutin sekolah ke luar negeri. Niat nikah jadi drop. Kemarin orang tua saya nelpon saya dan menanyakan hal itu lagi.”
Penulis :“Oke sekarang kita langsung ke masalahnya. Yang pertama anda harus lakukan adalah FOKUS pada keinginan anda untuk menikah. Sekarang saya tanya, mana lebih penting untuk anda : Karir atau menikah?
Klien : “Nikah dong, Pak.”
Penulis : “Apa iya? Kenapa anda jadi lebih enjoy kerja daripada usaha dapat jodoh.”
Klien : “Ya,...nggak tahu lah.”
Penulis : “Saya menduga karena anda mendapat kesenangan dari kerja. Anda berprestasi. Prestasi anda dihargai. Teman-teman memuji. Itu kesenangan yang anda rasakan. Tapi di urusan nikah, anda gagal terus. Itu menyakitkan. Anda pun memilih kerja. Karena itu jauh lebih menyenangkan.”
Klien : “Saya pikir begitu.”
Penulis : “Anda mau ngejomlo terus? Kaya kakak-kakak kelas itu (saya sebut nama dua perempuan yang sama-sama kami kenal). Mereka udah hampir 40 tahun. Tapi belum nikah. Mau kayak mereka?”
Klien : “Ih,... nggak mau lah.”
Penulis : “Nah, anda mau nikah karena tiga hal setidaknya. Pertama, anda kesel didesak orang tua terus. Kedua, anda pun ingin menghindari situasi kakak-kakak kelas itu. Anda nggak mau jomblo forever. Ketiga, anda tahu nikah itu ueeenaak banget. Ha..ha..ha.
Klien : “Ya, itu bener.”
Penulis : “Itu berarti anda sudah punya motivasi yang kuat.” Nah, langkah pertama adalah menetapkan tujuan anda dengan jelas. Anda punya pilihan. Menikah, Karir, atau sekolah lagi. Saat ini anda harus memilih menikah. Artinya, anda harus mendahulukan menikah dari karir dan sekolah”.
Klien : ”OK. Saya pilih menikah”.
Penulis : “Bagus. Sekarang saya ingin anda janji. Kalau ada proyek kerjaan atau beasiswa sekolah, anda akan tolak dua peluang itu. Gimana?”
Klien : “Apa emang harus begitu?”
Penulis : “Iya. Itu bukti anda memilih dan memprioritaskan. Gimana?”
Klien : “Oke. Saya janji.’
Penulis : “Langkah kedua adalah yakin. Yakinlah kalau keinginan anda itu pasti tercapai. Yakinlah kalau Tuhan dan seluruh alam akan bekerja untuk mewujudkan tujuan anda itu. Untuk itu anda harus membuktikannya juga.
Klien : “Apa buktinya?”
Penulis : “Bayar saya Rp. 10 juta.”
Klien : “Sepuluh juta?Anda gila? Itu besar sekali untuk saya.”
Penulis : “Ha..ha..ha.. Ya, itu bukti kalau anda sangat-sangat serius ingin menikah. Orang yang sangat-sangat serius akan berkorban apapun untuk keinginannya. Pengorbanan itu buktinya. Makin berat pengorbanan itu makin baik. Tuhan dan alam juga akan serius mendukung orang yang sangat serius berkorban untuk keinginannya. Karena saya tahu, uang sangat berarti untuk anda, saya tetapkan sebesar itu. Biar terasa beratnya.”
Klien : “Ehm...”
Penulis : Keputusannya ada pada anda. Anda selalu punya pilihan. Berpikir hal itu benar dan anda akan setuju. Atau anda berpikir, ini hanya untuk keuntungan saya dan anda tidak akan setuju.”
Klien : “Tapi anda kan memang akan untung sepuluh juta?”
Penulis : “Ya anda benar. Saya harus jujur. Saya untung sepuluh juta. Bagi saya, keuntungan itu adalah akibat keseriusan anda. Tapi itu bukan tujuan saya. Tujuan saya adalah membantu anda mencapai tujuan anda. Anda bisa saja tidak membayar saya sama sekali. Anda toh teman saya. Masa saya tidak mau bantu. Tapi dengan begitu, anda tidak terbukti serius. Tuhan dan alam pun tidak akan serius membantu anda. Bahkan, anda sendiri, akan ragu-ragu. Seperti yang terjadi selama ini.”
Klien : “Kalau begitu, saya siap bayar Rp. 10 juta.”
Penulis : “Oke. Deal?”
Klien : “Deal”
Penulis : “Sekarang langkah berikutnya. Anda sudah punya calon yang anda suka?”
Klien : “Sudah. Ada dua. Namanya... (ia sebut dua nama).
Penulis : “Wah, itu nggak boleh. Anda mesti fokus pada satu orang. Hanya boleh ada satu rencana. No Plan B. Siapa diantara kedua yang lebih baik menurut anda?”
Klien : “Oke. Si X (ia menyebut sebuah nama)
Penulis : “Kapan anda mau nikah?”
Klien : “Tahun depan.”
Penulis : “Oke. Good. Kalau begitu anda sudah benar-benar siap. Saya akan langsung beraksi. Begitupun dengan anda. Aksi pertama anda adalah tulis di kertas: “Terima kasih Tuhan, saya telah menikah dengan Mr. X pada Oktober 2006.”
Klien : “Lho, saya kan belum menikah? Kenapa ditulisnya sudah?”
Penulis : “Sekarang 2005. anda memang belum nikah. Tapi pada 2006, kan udah nikah. Jadi anda menulisnya pake kata sudah. Itu goal statement yang berdasarkan keyakinan yang benar dan kuat. Tempel di tempat-tempat yang sering anda lihat.”
Klien : “Oke. Saya jadi semangat banget nih”
Penulis : “Iya lah. Nikaah. Oke sudah cukup sekarang. Ini nomer rekening saya...”
Klien : “Segera saya transfer. Thanks”
Perbincangan selesai. Kami pun berpisah.
Catatan:
(Kasus diatas benar-benar terjadi. tapi dalam penulisannya, saya lakukan sedikit penyesuaian, seperti nama-nama yang tidak disebut dan sebagainya)
Saudara, sukses ada harganya. Siapa yang membayar harga kesuksesan, ia bisa meraihnya. Sebaliknya, siapapun yang tak membayar harga kesuksesan, dipastikan ia akan gagal. Meskipun banyak peluang disodorkan padanya. Sukses berkaitan dengan mengatasi masalah di setiap peluang.
Mari perhatikan satu contoh sederhana. Katakanlah calon istri anda meminta mas kawin pada anda sebesar Rp. 100 (seratus rupiah). Mas kawin yang sederhana dan ringan, kan? Tapi bila anda tidak membayarnya, apakah anda jadi nikah? Tidak! Pernikahan tak sah karena anda tak mau membayar mas kawinnya. Padahal mas kawin itu hanya Rp. 100.-. Mungkin calon istri anda akan memutuskan untuk menikah dengan pria lain. Ia mungkin berpikir: “Saya kan cuman minta seratus perak, dia nggak mau bayar. Gimana kalau saya minta lebih?”
Begitu juga dengan sukses. Ia ada harganya. Kadang harga sukses itu murah sekali. Kadang malah mahal sekali. Memang bukan murah mahalnya harga kesuksesan yang jadi masalah. Lalu apa? Masalahnya adalah : Apakah kita membayarnya atau tidak. Bila anda tahu harga sukses itu mahal, tapi anda benar-benar ingin jadi orang sukses, maka anda akan membayar harga mahal itu.
Saudara, semahal atau semurah apa sih harga sukses anda? Tergantung sukses yang anda inginkan. Bila sukses itu berarti anda punya penghasilan Rp. 1 juta per bulan, maka harga suksesnya pasti lebih murah dibanding dengan sukses berarti punya penghasilan Rp. 1 milyar per bulan. Iya kan?
Mari simak harga suksesnya Thomas Alfa Edison. Baginya, sukses berarti berhasil menciptkan bola lampu. Berapa harganya? Harganya adalah 10.000 percobaan. Thomas Alfa Edison membayar harga kesuksesannya. Ia pun sukses. Ia akan dikenang manusia modern sepanjang masa atas jasa-jasanya. Harga sukses Edison itu mungkin mahal untuk banyak orang. Tapi harga itu sangat sepadan dengan hasilnya.
Sama juga dengan Kolonel Sanders. Baginya sukses berarti ada orang yang mau diajak kerjasama mengembangkan restoran ayam berdasar resep darinya. Berapa harganya? 1009 penawaran yang ditolak. Padahal Kolonel Sanders sudah berusia 65 tahun ketika memulai menawarkan resep ayamnya pada orang-orang. Sang Kolonel pun sukses. Ia membayar harga kesuksesannya.
Contoh bagus lain diberikan Abraham Lincoln. Sukses baginya adalah menjadi Presiden Amerika Serikat. Berapa harganya? Mari kita simak perjalanan hidupnya:
Gagal dalam bisnis, usia 31 tahun.
Kalah dalam pencalonan legislatif , usia 32 tahun.
Gagal lagi dalam bisnis, usia 34 tahun.
Kehilangan kekasihnya yang meninggal, usia 35
Depresi mendalam, usia 36
Kalah dalam pemilihan, usia 38.
Kalah dalam pencalonan anggota konggres, usia 43
Kalah dalam pencalonan anggota konggres, usia 46
Kalah dalam pencalonan anggota konggres, usia 48
Kalah dalam pencalonan senator, usia 55
Gagal dalam usaha menjadi wakil presiden, usia 56.
Kalah dalam pencalonan senator, usia 58.
Terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, usia 60.
Abraham Lincoln siap terus kalah dalam pemilihan, gagal dalam bisnis dan sebagainya. Ia sadar, itulah harga kesuksesannya. Dan, ketika ia mau membayarnya, sukses pun ia raih. Apa yang terjadi padanya, ketika di usia 58, setelah ia kalah dalam pencalonan senator, ia memutuskan berhenti dari dunia politik. Mungkinkah ia menjadi presiden legendaris Amerika? Saya yakin tidak. Sejarah tidak akan mencatatnya sebagai salah seorang presiden Amerika.
Saudara, itulah rumus kesuksesan. Sederhana, kan?
Maukah anda sukses? Pasti mau.
Maukah anda membayar harga kesuksesan anda? Saya yakin anda mau juga.
Kunci 3:
Sumberdaya anda,
untuk Konsumsi Leher ke bawah atau Investasi leher ke atas.
Siapa orang sukses yang anda kagumi? Kalau saya, salah satunya adalah Bill Gates. Orang terkaya di dunia saat ini (tahun 2006). Kalau untuk anda, mungkin beda. Nggak apa-apa. Bagi anda yang senang sepakbola, mungkin Ronaldinho, orang sukses yang anda kagumi. Bagi anda yang gemar golf, Tiger Wood mungkin pilihan terbaik. Bagi anda yang gemar film, wah banyak sekali ya. Bagi anda yang gemar politik, mungkin Mahathir Muhammad, tokoh yang anda kagumi. Bagi anda yang senang berbisnis, mungkin Donald Trump dan Robert T. Kiyosaki menjadi pilihan anda. Ah,.. cukuplah contohnya, ya.
Sekarang pertanyaannya adalah mengapa mereka bisa sukses, sedang sebagian besar orang lain tidak? Padahal sumberdaya yang dimiliki oleh semua orang sama? Apakah volume otak Bill Gates, Ronaldinho, Tiger Wood, Mahathir Muhammad, Donald Trump, dan Robert T. Kiyosaki beda dengan sebagian besar manusia? Jelas tidak. Apakah waktu yang mereka miliki per hari lebih banyak? Jelas tidak. Apakah mereka punya tambahan indera selain indera-indera yang kita punya? Jelas tidak. Apakah mereka semua lahir dari kalangan orang kaya dan sukses? Tidak semua. Jadi, volume otak, jumlah waktu yang dimiliki per hari, indera, dan keturunan tidak berpengaruh pada kesuksesan mereka. Kalau bukan hal-hal itu, lalu perbedaan apa yang membedakan mereka dari sebagian besar orang?
Guru saya, Pak Zainal Abidin, memberikan penjelasan. Menurutnya, bukan jumlah waktu yang menentukan, tapi bagaimana memanfaatkan waktu itulah perbedaannya. Bukan volume otak yang berpengaruh, tapi apa yang dimasukkan ke dalam otak itulah perbedaannya. Satu lagi, bukan jumlah uangnya yang berpengaruh besar, tapi untuk apa uang itulah yang membedakan.
Contoh sederhana begini:
Pada pukul 20.00 – 22.00 setiap malam, apa yang anda lakukan? Banyak pilihannya. Anda bisa nonton sinetron di satu stasiun TV. Anda bisa menyimak diskusi politik di stasiun TV yang lain. Anda pun bisa makan malam di restoran favorit anda. Anda bisa ngobrol dengan tetangga di pos hansip. Anda bisa baca komik. Anda pun bisa baca buku ini. Anda bisa bercanda ria dengan anak istri. Anda bisa main catur dengan tetangga. Tapi mana pilihan aktivitas yang menghantarkan anda pada sukses, mana yang bukan?
Anda bisa saja nonton TV. Tapi, apa yang anda tonton akan menghasilkan dampak yang berbeda. Bila pilihan anda jatuh pada sinetron, anda mungkin terhibur, tapi apakah anda bisa lebih sukses? Sama pula dengan baca. Baca buku ini dengan baca komik jelas beda dampaknya. Saya sih yakin baca buku ini lebih banyak manfaatnya (He..he..he... ).
Nah saudara, setiap manusia diberikan modal dasar yang relatif sama. Perbedaan baru muncul dengan bedanya tindakan kita dalam memanfaatkan sumberdaya itu. Secara garis besar, bisa dibagi dua:
1. Orang sukses menggunakan sumberdayanya (waktu, tenaga, pikiran, uang, dsb) untuk meningkatkan kualitas dirinya. Disebutnya investai untuk hal-hal yang di atas leher. Tepatnya otak. Kenapa investasi? Karena istilah investasi tepat. Ia sesuatu yang menghasilkan manfaat terus menerus.
2. Orang gagal menggunakan sumberdayanya (waktu, tenaga, pikiran, uang, dsb) untuk kesenangan dirinya saja. Disebutnya konsumsi untuk hal-hal yang di bawah leher. Kenapa konsumsi? Karena istilah ini tepat untuk menggambarkan sesuatu yang manfaatnya sekali habis.
Contoh : anda punya uang Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).
Bila anda gunakan uang tersebut untuk beli buku pengembangan diri, lalu membaca dan melakukannya, maka anda sedang melakukan investasi leher ke atas. Tapi, bila anda manfaatkan uang itu untuk makan malam di restoran favorit anda, maka anda sedang melakukan konsumsi leher ke bawah.
Lalu apa perbedaannya?
Membeli, membaca dan melakukan buku pengembangan diri berarti anda telah meningkatkan kualitas diri anda. Manfaatnya pun jangka panjang. Pengetahuan yang telah anda tahu, bisa bermanfaat terus selama anda hidup. Meski lupa, anda bisa membaca bukunya lagi dan mengingatnya lagi. Iya, kan?
Berbeda dengan makan di resto favorit anda. Manfaatnya anda bisa kenyang dan senang. Tapi seberapa lama? Sebentar saja bukan? Besok paginya anda sudah lapar lagi. Kesenangan yang anda dapat pun mungkin sudah tak terasa lagi. Selesai. Dampak Rp. 100.000 anda hilang dalam semalam. Beda dengan baca buku, kan?
Selain itu, pendapatan anda, secara langsung dipengaruhi oleh investasi anda untuk leher ke atas. Bukan oleh konsumsi anda untuk leher ke bawah.
Contoh :
Bila anda punya perusahaan. Anda punya dua orang karyawan. Satu lulusan SMP. Satunya lagi sarjana. Usia keduanya sama. Dan dua-duanya belum punya pengalaman kerja dimanapun. Di posisi apa anda akan akan menempatkan keduanya? Bagaimana pula anda menggajinya? Saya yakin, posisi karyawan yang sarjana lebih baik dari posisi karyawan yang lulusan SMP. Gajinya pun beda. Gaji karyawan sarjana lebih tinggi dari karyawan lulusan SMP. Mengapa begitu? Saya yakin karena menurut anda kemampuan keduanya beda. Karyawan sarjana lebih banyak menginvestasikan sumberdayanya untuk leher ke atas dibanding karyawan lulusan SMP.
Dalam contoh di atas, ukurannya adalah pendidikan. Anda mungkin bertanya: “Mungkin tidak, ada lulusan SMP yang jadi atasan sedang bawahannya para sarjana?” Jawabannya mungkin dan buktinya banyak. Bill Gates bukan sarjana. Tapi karyawannya ada yang profesor. Lalu apa perbedaan yang membedakan tingkat kesuksesan orang? Jawabannya seberapa banyak sumberdaya yang diinvestasikan untuk leher ke atas?
Sangat mungkin seorang lulusan SMP lebih hebat dibanding sarjana. Bagaimana bisa? Bisa, bila sang lulusan SMP lebih banyak menginvestasikan sumberdayanya (waktu, uang, tenaga, pikiran, dsb) untuk investasi leher ke atas.
Misalnya anda lulusan SMP. Anda senang ikut berbagai kursus. Anda ikut kursus bahasa Inggris, kursus komputer, kursus pengembangan kepribadian, senang baca buku positif, senang bergaul dengan orang-orang sukses, punya rasa ingin tahu yang tinggi dan gemar bertanya. Kualitas anda pasti lebih dari sarjana yang masuk universitasnya nyogok, kuliahnya sering bolos, setiap malam dugem ke diskotik, kalau ujian nyontek, nggak senang baca buku, nggak betah ikut pelatihan atau seminar, nggak bisa komputer padahal komputernya punya. Dengan kompetensi anda seperti itu, maka saya yakin pendapatan anda pun akan lebih dari sang sarjana yang kurang kompeten tersebut.
Saudara, investasi leher ke atas lah yang membuat anda sukses. Bukan konsumsi leher ke bawah. Kenapa begitu? Karena investasi leher ke atas dapat meningkatkan kualitas diri anda. Kualitas diri anda itulah yang dapat meningkatkan pendapatan anda, dan mempercepat kesukesan anda.
Inilah perbedaan yang membedakan orang-orang sukses (ACHIEVER) dengan orang-orang biasa saja (SAVE SEEKER) dan orang-orang gagal (LOOSER).
Orang-orang sukses lebih banyak menginvestasikan suberdayanya untuk leher ke atas (kompetensi).
Orang-orang biasa lebih banyak mengkonsumsikan sumberdayanya untuk leher ke bawah. Sedang orang-orang gagal, mereka merusak sumberdaya yang mereka miliki.
[Sumber : dari seorang teman]




















